Dunia sudah gila, atau mungkin kitanya saja yang telat sadar. Dulu, tugas penulis itu sederhana: duduk, melamun, mengetik, kirim naskah ke penerbit, lalu tidur nyenyak sambil menunggu royalti datang enam bulan sekali. Selesai. Penulis tidak perlu pusing memikirkan bagaimana cara bukunya sampai ke tangan pembaca; itu urusan bagian pemasaran. Penulis tidak perlu tahu apa itu engagement rate atau jam berapa waktu paling pas untuk posting. Penulis adalah pertapa intelektual yang cukup bicara lewat kata-kata di atas kertas.
Tapi coba lihat sekarang, di tahun 2026 ini. Kalau Anda cuma “sekadar” menulis dan tidak mau muncul di permukaan, siap-siap saja buku Anda jadi artefak purba yang terkubur di tumpukan paling bawah gudang penerbit. Sekarang, muncul tuntutan baru yang bikin banyak penulis senior merengut dan penulis pemula megap-megap: Penulis harus jadi content creator.
Pertanyaannya: Apakah ini wajib hukumnya? Apakah kalau tidak joget-joget di TikTok atau tidak bikin konten estetik di Instagram, kita otomatis gagal jadi penulis? Mari kita bedah pakai logika pasar yang makin berisik ini.
Alasan pertama kenapa fenomena ini muncul adalah karena pintu gerbang perhatian pembaca sudah pindah. Dulu, orang cari rekomendasi buku di koran atau majalah sastra. Sekarang? Orang cari buku lewat hashtag #BookTok atau video “5 Rekomendasi Buku yang Bikin Kamu Intelektual” di YouTube. Pembaca zaman sekarang itu visual dan auditori. Mereka ingin tahu siapa orang di balik tulisan itu. Mereka ingin melihat proses kreatifnya, ingin tahu apa kopi favoritnya, sampai ingin lihat bagaimana bentuk meja kerjanya. Penulis yang menutup diri dan menolak jadi kreator konten sebenarnya sedang memutus jembatan komunikasinya sendiri dengan pembaca modern.
Kedua, adalah masalah “Nasib di Tangan Sendiri”. Mari kita jujur-jujuran: penerbit di Indonesia itu sumber dayanya terbatas. Mereka punya ratusan judul buku yang harus diurus. Kalau Anda bukan penulis sekaliber Tere Liye atau Dee Lestari, jangan harap penerbit bakal jor-joran keluar uang buat iklan baliho atau promo besar-besaran buat buku Anda. Di sinilah “kewajiban” itu muncul. Menjadi content creator adalah cara penulis untuk mengambil alih nasib bukunya. Anda adalah manajer pemasaran bagi diri Anda sendiri. Dengan membangun audiens di media sosial, Anda punya pasar yang pasti saat buku Anda terbit. Anda tidak lagi pasrah menunggu keajaiban dari penerbit.
Ketiga, ada pergeseran konsep “Penulis sebagai Brand”. Sekarang, orang tidak cuma beli buku, tapi beli “pemikiran” sang penulis. Kalau Anda rajin bikin konten yang bermanfaat, orang akan percaya pada kualitas intelektual Anda. Saat Anda merilis buku, mereka beli bukan karena judulnya saja, tapi karena mereka sudah “jatuh cinta” pada karakter dan isi kepala Anda yang sering lewat di feed mereka. Konten adalah umpan, dan buku adalah hidangan utamanya. Tanpa umpan, jangan harap ada yang mau datang ke meja makan Anda.
Namun, di sinilah letak dilema dan “darurat kewarasan”-nya.
Banyak penulis yang akhirnya terjebak. Waktunya habis buat bikin script video, buat editing pakai CapCut, atau buat balas-balas komentar netizen yang kadang tidak nyambung. Akibatnya? Waktu buat menulis bukunya malah hilang. Ini ironi yang menyedihkan. Kita sibuk membangun “bungkus” sampai lupa meracik “isi”. Banyak penulis yang follower-nya jutaan, tapi begitu bukunya terbit, isinya cuma kumpulan kutipan dangkal yang tidak ada bobotnya. Mereka lebih hebat jadi kreator konten daripada jadi penulis. Kalau sudah begini, tujuan awalnya jadi melenceng jauh.
Keempat, beban mental bagi penulis yang aslinya introvert. Menulis itu profesi bagi mereka yang biasanya nyaman dalam kesunyian. Memaksa seorang penulis yang pemalu untuk bicara di depan kamera atau melakukan “live streaming” jualan buku itu rasanya seperti menyuruh ikan untuk terbang. Sering kali kontennya jadi terasa kaku, dipaksakan, dan malah bikin citranya jadi aneh. Di sini saya mau bilang: Menjadi content creator itu tidak harus jadi artis.
Anda tidak perlu pusing ikut tren joget atau drama. Menjadi kreator konten bagi penulis bisa sesederhana membagikan kutipan buku, menceritakan proses riset lewat tulisan pendek di blog, atau berbagi tips menulis di Twitter. Konten tidak harus selalu berupa video muka Anda. Konten adalah segala sesuatu yang memberikan nilai tambah bagi calon pembaca Anda. Pilihlah medium yang paling nyaman buat Anda, bukan yang paling tren.
Kelima, realitas faktual industri buku kita: jualan buku itu susah. Titik. Dengan pembajakan yang gila-gilaan dan minat baca yang katanya rendah, penulis harus kreatif. Menjadi content creator memungkinkan Anda punya sumber penghasilan lain, misalnya dari kerjasama brand, jadi pembicara, atau kelas menulis daring. Uang dari sana bisa dipakai untuk menyambung napas saat royalti buku belum cair. Jadi, menjadi kreator konten itu sebenarnya adalah strategi bertahan hidup bagi penulis di ekosistem yang kurang sehat ini.
Lantas, apakah wajib? Secara hukum negara, tentu tidak. Secara estetika seni, juga tidak. Tapi secara hukum pasar? Jawabannya: Hampir wajib.
Kecuali Anda punya bakat yang luar biasa jenius sehingga buku Anda bisa viral dengan sendirinya (yang probabilitasnya mungkin cuma 0,001%), Anda butuh panggung digital. Dunia sudah bergeser dari “Siapa yang paling pintar menulis” menjadi “Siapa yang paling pintar berkomunikasi”. Penulis yang menolak teknologi dan menolak jadi kreator konten akan tetap bisa menulis, tapi suaranya akan sayup-sayup saja di tengah kebisingan informasi.
Saran saya, jangan jadi budak algoritma. Jangan biarkan jumlah likes menentukan harga diri karya Anda. Gunakan konten sebagai alat, bukan sebagai tujuan akhir. Tetaplah dedikasikan waktu utama Anda untuk menulis naskah yang bermutu, lalu sisihkan sedikit waktu untuk “bermain” di media sosial. Jadilah penulis yang punya isi, tapi juga punya cara untuk menyampaikan isi itu kepada dunia.
Dunia literasi Indonesia butuh penulis yang tidak cuma jago melamun, tapi juga jago bergaul di dunia digital. Jangan biarkan panggung konten hanya diisi oleh mereka yang cuma jago cari sensasi. Penulis yang punya ilmu harus berani muncul, harus berani jadi kreator, agar isi media sosial kita tidak cuma penuh dengan sampah visual tapi juga ada nutrisi intelektualnya. Jadi, siapkan kamera Anda, tapi jangan lupa selesaikan dulu bab naskah Anda hari ini. Karena pada akhirnya, konten yang paling hebat adalah buku yang bagus, dan kreator yang paling sejati adalah mereka yang tetap setia pada kata-kata. Selamat berkonten ria tanpa kehilangan jiwa!




