Dilema Penulis: Ide Idealis vs Permintaan Pasar (Pasar Maunya Apa?)

Ada satu hantu yang selalu bergentayangan di meja kerja setiap penulis di Indonesia. Hantu ini tidak berwajah seram, tapi bisikannya bikin ciut nyali. Namanya: Idealisme. Di telinga sebelah kanan, ia membisikkan kata-kata manis tentang “karya adiluhung”, tentang “kejujuran kreatif”, dan tentang bagaimana seorang penulis harus setia pada nuraninya tanpa peduli laku atau tidak. Tapi di telinga sebelah kiri, ada suara yang jauh lebih berisik, suara yang datang dari perut yang lapar dan tagihan listrik yang jatuh tempo. Itulah suara: Permintaan Pasar.

Inilah dilema abadi yang bikin banyak penulis kita sering mendadak kena penyakit “stuck” atau macet ide. Kita ini ingin jadi sastrawan kelas berat yang namanya dikenang sejarah, tapi di sisi lain kita juga ingin royaltinya cukup buat beli mobil atau minimal buat bayar cicilan rumah. Pertanyaannya: Apakah keduanya bisa jalan bareng? Atau kita harus memilih salah satu dan mengubur yang lainnya dalam-dalam?

Mari kita bedah dilema ini pakai kacamata jujur-jujuran, jangan pakai kacamata hitam yang cuma bikin kita gelap mata.

Alasan pertama kenapa dilema ini begitu nyata adalah karena selera pasar kita di Indonesia itu sering kali “ajaib”. Kalau Anda lihat rak best-seller di toko buku besar, isinya sering kali seragam. Kalau sedang musim novel romantis religi, semua penerbit jualan itu. Kalau sedang musim horor yang katanya “berdasarkan kisah nyata” di Twitter, semua orang mendadak jadi dukun narasi. Pasar kita itu sangat latah. Mereka maunya yang ringan, yang menghibur, dan yang tidak bikin dahi berkerut terlalu dalam. Sementara itu, ide idealis kita biasanya berat, gelap, dan penuh dengan perenungan filosofis yang mungkin cuma dimengerti oleh lima orang di seluruh dunia.

Di sini penulis sering merasa terjebak. Kalau saya menulis yang idealis, penerbit bakal bilang: “Naskahnya bagus, Mas, tapi segmentasinya terlalu segmented (alias nggak bakal laku).” Tapi kalau saya menulis mengikuti kemauan pasar, hati saya berontak. Saya merasa sedang melacurkan bakat saya demi recehan. Akhirnya, banyak penulis yang memilih berhenti menulis karena merasa dunianya tidak adil.

Kedua, mari kita jawab pertanyaan besar itu: “Pasar maunya apa sih?” Sebenarnya, pasar itu tidak pernah benar-benar tahu apa yang mereka mau sampai mereka melihatnya. Pasar itu seperti anak kecil yang cuma tahu rasa cokelat itu enak. Kalau Anda kasih rasa matcha yang pahit-manis, mereka mungkin awalnya ragu, tapi lama-lama bisa jadi suka. Masalahnya, penulis sering kali terlalu malas untuk meramu “matcha” yang enak itu. Kita sering kali menyodorkan idealisme kita yang mentah, yang keras, dan yang tidak bisa dikunyah oleh orang awam. Lalu saat tidak laku, kita menyalahkan pasar yang “bodoh”. Padahal, mungkin cara kita menyajikannya saja yang salah.

Ketiga, soal kompromi kreatif. Menjadi penulis profesional itu bukan berarti Anda harus jadi hamba pasar yang tanpa harga diri. Tapi bukan juga berarti Anda jadi batu yang keras kepala. Kompromi itu perlu. Idealisme itu adalah “isi”, sedangkan permintaan pasar adalah “kemasan”. Anda bisa saja menulis tentang kritik sosial yang sangat pedas (idealisme), tapi bungkuslah dengan alur cerita misteri yang seru atau drama keluarga yang menyentuh (permintaan pasar). Penulis hebat adalah mereka yang bisa menyelundupkan gagasan besar ke dalam cerita yang disenangi orang banyak. Ingat, pil pahit itu akan lebih mudah ditelan kalau dibungkus dengan lapisan gula yang manis.

Keempat, risiko menjadi penulis yang “terlalu idealis”. Saya sering melihat penulis yang merasa karyanya terlalu suci untuk diedit demi kepentingan komersial. Mereka tidak mau ganti judul, tidak mau potong bagian yang membosankan, dan tidak mau pakai sampul yang kekinian. Hasilnya? Bukunya cuma menumpuk di gudang. Idealisme tanpa strategi pemasaran itu namanya bunuh diri kreatif. Kita menulis itu untuk dibaca orang, bukan untuk dipuja sendiri di depan cermin. Kalau tidak ada yang baca, ya gagasan idealis Anda itu cuma jadi sampah kertas yang tidak ada gunanya bagi peradaban.

Kelima, mari kita bicara soal “Pasar Digital”. Sekarang, dengan adanya platform baca daring, pasar itu makin nyata wujudnya. Anda bisa lihat langsung berapa orang yang baca, bagian mana yang mereka suka, dan komentar pedas apa yang mereka berikan. Ini tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, Anda jadi tahu selera pasar secara real-time. Di sisi lain, tekanannya jadi luar biasa. Banyak penulis terjebak jadi “mesin ketik” yang cuma mengejar jumlah klik dan mengabaikan kualitas tulisan demi memuaskan komentar pembaca. Inilah bentuk perbudakan pasar yang paling ngeri di zaman sekarang.

Lantas, bagaimana solusinya agar kita tidak gila menghadapi dilema ini?

Gunakan strategi hibrida. Kalau Anda punya idealisme yang kuat tentang sebuah tema berat, jangan habiskan seluruh energi Anda di sana kalau itu memang tidak laku. Anda bisa menulis satu buku yang “komersial banget” untuk mengisi pundi-pundi royalti dan membangun nama besar, lalu gunakan nama besar dan uang itu untuk membiayai buku idealis Anda berikutnya. Banyak penulis besar dunia melakukan ini. Mereka jualan novel populer biar dapur ngebul, baru kemudian mereka menulis karya sastra yang mereka impikan. Itu bukan kemunafikan, itu namanya manajemen karier yang cerdas.

Selain itu, didiklah pasar Anda. Jangan cuma mengikuti arus, tapi buatlah arus baru. Kalau Anda punya ide idealis, sajikanlah dengan kualitas teknis yang mumpuni. Buatlah pembaca merasa “naik kelas” setelah membaca buku Anda tanpa merasa digurui. Pasar di Indonesia sebenarnya haus akan bacaan yang bermutu, mereka cuma butuh pintu masuk yang ramah. Jadilah pintu itu.

Intinya, dilema antara idealisme dan permintaan pasar itu akan selalu ada selama industri buku masih berdiri di atas hitungan untung-rugi. Jangan jadikan itu beban yang menghentikan langkah Anda. Terimalah bahwa menulis buku adalah pertemuan antara seni dan bisnis. Seni butuh kejujuran, bisnis butuh strategi. Jika Anda bisa menyeimbangkan keduanya, Anda bukan hanya akan menjadi penulis yang berumur panjang di sejarah literasi, tapi juga penulis yang dompetnya tetap aman dan sejahtera.

Jangan jadi penulis yang mati kelaparan karena terlalu idealis, tapi jangan juga jadi penulis yang mati kreativitasnya karena terlalu memuja pasar. Temukan titik tengahnya. Menulislah dengan hati yang jujur, tapi kemaslah dengan otak yang cerdas. Karena pada akhirnya, buku yang paling bagus adalah buku yang isinya mencerahkan dan yang penjualannya membahagiakan semua orang di rantai industrinya. Selamat bergelut dengan dilema, karena di sanalah kualitas seorang penulis benar-benar diuji!