Menulis Tanpa Membandingkan Diri

Bayang-Bayang Perbandingan dalam Dunia Menulis

Menulis di zaman sekarang tidak pernah benar-benar sunyi. Ketika seseorang membuka laptop untuk menyusun paragraf pertama, di saat yang sama ribuan tulisan lain sedang terbit, dibagikan, dan dipuji. Media sosial, toko buku daring, dan komunitas penulis membuat kita mudah melihat karya orang lain. Di satu sisi, hal ini menginspirasi. Namun di sisi lain, ia menciptakan bayang-bayang perbandingan yang diam-diam menggerogoti kepercayaan diri. Banyak penulis pemula berhenti bukan karena kehabisan ide, tetapi karena merasa tulisannya tidak sebanding dengan karya orang lain. Mereka membaca buku yang bagus, lalu merasa karyanya terlalu biasa. Mereka melihat teman yang sudah menerbitkan buku, lalu merasa tertinggal. Artikel ini membahas bagaimana menulis tanpa terus-menerus membandingkan diri. Bukan berarti kita menutup mata dari karya orang lain, tetapi belajar menempatkan perbandingan pada porsi yang sehat. Dengan pendekatan naratif deskriptif dan bahasa sederhana, kita akan menelusuri mengapa perbandingan muncul, bagaimana dampaknya, dan bagaimana cara perlahan membebaskan diri agar proses menulis kembali menjadi ruang yang jujur dan menyenangkan.

Akar Kebiasaan Membandingkan Diri

Membandingkan diri adalah kebiasaan yang sangat manusiawi. Sejak kecil kita terbiasa melihat nilai teman, prestasi saudara, atau pencapaian orang di sekitar kita. Tanpa sadar, pola itu terbawa hingga dewasa, termasuk dalam dunia menulis. Ketika melihat orang lain menulis lebih cepat, lebih produktif, atau lebih dikenal, pikiran kita langsung membuat ukuran-ukuran tertentu. Padahal setiap orang memiliki latar belakang, waktu, sumber daya, dan perjalanan yang berbeda. Perbandingan sering muncul karena kita ingin memastikan bahwa usaha kita berarti. Kita mencari tanda bahwa kita tidak tertinggal. Namun yang sering terjadi adalah sebaliknya: perbandingan justru membuat kita merasa kurang. Kita lupa bahwa tulisan yang kita lihat adalah hasil akhir dari proses panjang yang mungkin penuh revisi dan kegagalan. Dengan memahami bahwa kebiasaan membandingkan diri berasal dari dorongan alami untuk mencari posisi dalam kelompok, kita bisa mulai melihatnya dengan lebih tenang dan tidak terlalu larut di dalamnya.

Dampak Perbandingan terhadap Proses Menulis

Perbandingan yang tidak sehat dapat mengganggu proses kreatif secara signifikan. Ketika penulis terlalu sering melihat karya orang lain sebagai tolok ukur, ia kehilangan fokus pada suaranya sendiri. Ia mulai menulis bukan untuk mengekspresikan gagasan, tetapi untuk mengejar standar eksternal. Akibatnya, tulisan terasa dipaksakan dan kehilangan keaslian. Selain itu, perbandingan dapat memunculkan rasa minder yang membuat penulis menunda atau bahkan berhenti. Setiap kali hendak menulis, muncul pikiran, “Tulisan saya tidak akan sebagus itu.” Pikiran ini seperti rem yang menahan laju kreativitas. Dalam jangka panjang, kebiasaan membandingkan diri juga menimbulkan kelelahan emosional. Menulis yang seharusnya menjadi ruang refleksi berubah menjadi ajang kompetisi. Proses yang mestinya personal menjadi penuh tekanan. Menyadari dampak ini penting agar kita lebih berhati-hati dalam mengelola paparan terhadap karya orang lain.

Ilusi Kesuksesan yang Terlihat

Di era digital, kita sering melihat hasil akhir tanpa mengetahui proses di baliknya. Kita melihat buku yang laris, unggahan yang viral, atau penghargaan yang diraih penulis lain. Namun kita jarang melihat malam-malam panjang revisi, naskah yang ditolak, atau rasa ragu yang mereka alami. Ilusi kesuksesan ini membuat kita merasa orang lain berjalan lebih cepat dan lebih mulus. Padahal, setiap perjalanan menulis memiliki lika-liku yang tidak selalu terlihat. Ketika kita membandingkan proses mentah kita dengan hasil akhir orang lain, tentu hasilnya tidak adil. Penting untuk menyadari bahwa yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil dari kenyataan. Dengan perspektif ini, kita bisa lebih bijak dalam memandang pencapaian orang lain. Alih-alih merasa tertinggal, kita bisa melihatnya sebagai bukti bahwa proses panjang memang membuahkan hasil.

Mengenali Suara Diri Sendiri

Salah satu cara paling efektif untuk berhenti membandingkan diri adalah dengan mengenali dan menghargai suara tulisan sendiri. Setiap penulis memiliki cara unik dalam melihat dan menceritakan sesuatu. Ada yang kuat dalam deskripsi, ada yang tajam dalam analisis, ada yang hangat dalam bercerita. Suara ini tidak muncul dalam semalam, tetapi tumbuh melalui latihan dan keberanian untuk jujur. Ketika penulis mulai menyadari keunikan suaranya, fokus perlahan bergeser dari “apakah saya sebaik dia” menjadi “apakah tulisan ini mencerminkan diri saya.” Pertanyaan kedua lebih membebaskan dan lebih relevan dengan proses kreatif. Mengenali suara sendiri juga berarti menerima bahwa tulisan kita tidak harus sama dengan orang lain. Keberagaman gaya justru memperkaya dunia literasi. Dengan menguatkan identitas tulisan, perbandingan menjadi tidak lagi mendominasi.

Membatasi Paparan yang Tidak Perlu

Tidak semua paparan terhadap karya orang lain membawa dampak positif. Ada kalanya terlalu banyak membaca atau melihat prestasi orang lain justru memicu rasa minder. Oleh karena itu, penting untuk mengatur seberapa sering dan dalam konteks apa kita mengakses informasi tersebut. Membatasi paparan bukan berarti menutup diri dari inspirasi, tetapi memberi ruang bagi diri sendiri untuk berkembang tanpa tekanan. Misalnya, kita bisa menentukan waktu khusus untuk membaca karya penulis lain sebagai bahan belajar, bukan sebagai bahan pembanding. Kita juga bisa mengurangi konsumsi media sosial saat sedang fokus menulis proyek tertentu. Dengan cara ini, perhatian kita lebih terarah pada proses sendiri. Ruang mental yang lebih bersih membantu menjaga semangat dan konsistensi.

Mengubah Perbandingan Menjadi Pembelajaran

Perbandingan tidak selalu buruk jika dikelola dengan tepat. Daripada melihat karya orang lain sebagai ancaman, kita bisa menjadikannya sumber pembelajaran. Alih-alih berkata, “Tulisan saya tidak sebagus ini,” kita bisa bertanya, “Apa yang membuat tulisan ini terasa kuat?” Pertanyaan seperti ini menggeser fokus dari penilaian diri ke analisis teknik. Dengan pendekatan ini, perbandingan berubah menjadi inspirasi. Kita belajar tentang struktur, ritme, atau cara menyampaikan ide, tanpa harus merasa inferior. Sikap ini membutuhkan latihan karena naluri awal sering kali defensif. Namun dengan kesadaran dan niat belajar, kita bisa memanfaatkan karya orang lain sebagai guru, bukan sebagai pesaing.

Menghargai Proses Pribadi

Setiap penulis memiliki ritme dan situasi hidup yang berbeda. Ada yang bisa menulis setiap hari selama berjam-jam, ada yang hanya memiliki waktu singkat di sela kesibukan. Membandingkan kecepatan atau produktivitas tanpa mempertimbangkan konteks adalah tidak adil bagi diri sendiri. Menghargai proses pribadi berarti menerima kondisi yang ada dan bekerja sesuai kapasitas. Jika hari ini hanya mampu menulis satu halaman, itu sudah cukup. Konsistensi kecil lebih penting daripada kecepatan sesaat. Dengan menghargai proses sendiri, kita membangun hubungan yang lebih sehat dengan kegiatan menulis. Hubungan ini menjadi fondasi yang kokoh untuk jangka panjang, tanpa terguncang oleh pencapaian orang lain.

Contoh Kasus Ilustrasi

Rina adalah seorang penulis pemula yang sering merasa minder setelah melihat teman-temannya menerbitkan buku lebih dulu. Setiap kali hendak menulis, ia teringat pencapaian orang lain dan merasa tertinggal. Akibatnya, ia sering menunda dan kehilangan semangat. Suatu hari, ia memutuskan untuk mengurangi penggunaan media sosial selama dua bulan dan fokus pada proyeknya sendiri. Ia juga mulai membaca buku favoritnya dengan pendekatan analitis, mencari tahu apa yang membuat tulisan itu efektif. Perlahan, ia menemukan bahwa gaya narasinya sendiri lebih sederhana dan reflektif. Alih-alih mencoba meniru gaya orang lain, ia mulai memperkuat keunikan tersebut. Enam bulan kemudian, draf bukunya selesai. Rina menyadari bahwa kemajuan terjadi ketika ia berhenti melihat ke samping dan mulai menatap jalannya sendiri. Kisahnya menunjukkan bahwa membatasi perbandingan dan fokus pada proses pribadi dapat membawa perubahan nyata.

Menumbuhkan Rasa Cukup

Menulis tanpa membandingkan diri membutuhkan rasa cukup. Rasa cukup bukan berarti puas diri, melainkan menerima bahwa posisi kita saat ini adalah bagian dari perjalanan. Kita boleh ingin berkembang, tetapi tanpa merendahkan apa yang sudah dicapai. Menumbuhkan rasa cukup membantu menenangkan pikiran dan menjaga energi kreatif. Kita menulis karena ingin menyampaikan sesuatu, bukan karena ingin mengalahkan orang lain. Dengan sikap ini, proses menulis terasa lebih ringan dan bermakna. Ketika rasa cukup tumbuh, perbandingan tidak lagi menjadi pusat perhatian. Kita bisa mengagumi karya orang lain tanpa kehilangan kepercayaan diri.

Kesimpulan

Menulis tanpa membandingkan diri adalah proses yang membutuhkan kesadaran dan latihan. Di dunia yang penuh informasi dan pencapaian orang lain, godaan untuk membandingkan diri memang besar. Namun dengan memahami akar kebiasaan tersebut, menyadari dampaknya, dan mengubah perspektif menjadi pembelajaran, kita bisa menjaga proses kreatif tetap sehat. Fokus pada suara sendiri, menghargai proses pribadi, dan menumbuhkan rasa cukup adalah langkah-langkah yang membantu. Pada akhirnya, setiap penulis memiliki jalannya masing-masing. Tidak ada garis waktu yang sama untuk semua orang. Ketika kita berhenti melihat ke samping dan mulai melangkah dengan keyakinan pada diri sendiri, menulis kembali menjadi ruang yang jujur, tenang, dan bermakna.