Ketika Struktur Terasa Menakutkan
Banyak orang ingin menulis buku, tetapi berhenti bahkan sebelum benar-benar mulai karena satu hal yang terasa rumit: struktur. Kata “struktur” sering dibayangkan sebagai kerangka kaku, penuh istilah teknis, dan aturan yang membingungkan. Akibatnya, niat menulis berubah menjadi beban mental. Padahal, struktur buku seharusnya membantu, bukan menakuti. Artikel ini membahas cara menyusun buku tanpa pusing memikirkan struktur yang rumit. Pendekatan yang digunakan bersifat sederhana dan membumi, dengan menempatkan pengalaman penulis dan pembaca sebagai pusat perhatian. Struktur akan dipahami bukan sebagai aturan baku, melainkan sebagai alur alami yang tumbuh dari isi buku itu sendiri. Dengan cara ini, menulis buku bisa terasa lebih ringan, mengalir, dan realistis untuk diselesaikan.
Memahami Struktur sebagai Alur Cerita
Struktur buku sering disalahpahami sebagai daftar isi yang kaku. Padahal, struktur pada dasarnya adalah alur cerita atau alur gagasan. Bahkan buku nonfiksi pun memiliki alur, seperti percakapan panjang antara penulis dan pembaca. Jika dipahami sebagai alur, struktur menjadi lebih masuk akal. Penulis cukup membayangkan bagaimana pembaca diajak masuk, diajak memahami, lalu ditinggalkan dengan pemahaman baru. Dengan sudut pandang ini, struktur tidak lagi terasa seperti beban teknis, melainkan seperti peta perjalanan. Penulis tidak perlu langsung tahu semua detail rute, cukup tahu dari mana berangkat dan ke mana ingin sampai. Di tengah perjalanan, penyesuaian selalu bisa dilakukan.
Memulai dari Isi, Bukan Kerangka
Kesalahan umum adalah memaksa membuat kerangka lengkap sebelum menulis satu paragraf pun. Bagi sebagian orang, cara ini justru membuat pusing dan mandek. Alternatifnya adalah memulai dari isi. Tulis saja apa yang ingin disampaikan, tanpa memikirkan urutan sempurna. Catatan acak, esai pendek, atau potongan pemikiran semuanya sah. Dari kumpulan tulisan inilah struktur akan muncul secara alami. Saat tulisan mulai banyak, penulis bisa melihat pola, tema yang berulang, dan gagasan yang saling berkaitan. Struktur kemudian disusun sebagai hasil pengamatan, bukan paksaan dari awal. Cara ini lebih ramah bagi penulis yang berpikir secara intuitif.
Menentukan Tema Besar Buku
Agar tidak pusing struktur, penulis perlu memegang satu tema besar sebagai pegangan. Tema besar bukan judul yang indah, melainkan inti pembicaraan buku. Tema ini menjadi benang merah yang menghubungkan semua bagian. Dengan tema yang jelas, penulis lebih mudah menilai apakah sebuah tulisan relevan atau tidak. Struktur buku kemudian berfungsi sebagai cara menyajikan tema tersebut secara bertahap. Penulis tidak perlu memikirkan bentuk bab yang sempurna, cukup memastikan setiap bagian mendekatkan pembaca pada pemahaman tema utama. Tema besar ini juga membantu menjaga konsistensi arah buku.
Mengelompokkan Tulisan Secara Alami
Setelah memiliki banyak bahan tulisan, langkah berikutnya adalah mengelompokkan. Pengelompokan ini tidak perlu rumit. Cukup baca ulang semua tulisan dan rasakan mana yang terasa sejenis. Tulisan yang membahas pengalaman bisa dikelompokkan, tulisan yang lebih reflektif bisa dikelompokkan, dan seterusnya. Dari kelompok inilah bab-bab mulai terbentuk. Setiap kelompok menjadi satu bab atau beberapa bab. Proses ini lebih mirip merapikan barang daripada menyusun bangunan dari nol. Dengan pendekatan ini, struktur tumbuh dari isi, bukan dipaksakan dari teori.
Menyusun Urutan Berdasarkan Pengalaman Pembaca
Struktur buku sebaiknya mengikuti perjalanan pembaca, bukan ego penulis. Penulis sering ingin langsung menunjukkan bagian paling pintar atau paling kompleks. Padahal, pembaca membutuhkan pengantar. Dengan memikirkan pengalaman pembaca, urutan bab menjadi lebih jelas. Bab awal berfungsi mengajak dan mengenalkan, bab tengah memperdalam, dan bab akhir merangkum serta membuka perspektif baru. Urutan ini tidak harus simetris atau akademis. Yang penting, pembaca merasa dipandu dengan wajar. Ketika fokus pada pengalaman pembaca, struktur terasa lebih manusiawi dan tidak membingungkan.
Fleksibel terhadap Perubahan
Struktur bukan sesuatu yang sakral. Banyak penulis stres karena merasa strukturnya harus sempurna sejak awal. Padahal, perubahan adalah bagian alami dari proses menulis. Saat tulisan berkembang, struktur pun wajar berubah. Bab bisa digabung, dipisah, atau dipindah. Dengan menerima fleksibilitas ini, penulis tidak perlu pusing mempertahankan struktur lama yang sudah tidak relevan. Struktur diperlakukan sebagai alat bantu sementara, bukan aturan mutlak. Sikap ini membuat proses menulis terasa lebih longgar dan tidak menekan.
Menghindari Perfeksionisme Struktur
Perfeksionisme sering menyamar sebagai keinginan membuat struktur terbaik. Akibatnya, penulis terjebak berbulan-bulan menyusun kerangka tanpa menulis isi. Untuk menghindarinya, penulis perlu sadar bahwa struktur yang “cukup baik” sudah memadai. Struktur akan terus membaik seiring proses penyuntingan. Dengan melepaskan tuntutan sempurna di awal, penulis memberi ruang bagi buku untuk tumbuh. Fokus utama tetap pada menyelesaikan tulisan, bukan memoles kerangka tanpa akhir.
Menjadikan Bab sebagai Wadah, Bukan Batas
Bab sering dianggap sebagai batas yang kaku. Padahal, bab sebaiknya dipahami sebagai wadah. Wadah ini menampung satu kelompok gagasan yang saling berkaitan. Jika satu gagasan terasa belum selesai, penulis tidak perlu memaksanya selesai dalam satu bab. Ia bisa berlanjut ke bab berikutnya. Dengan pandangan ini, struktur menjadi lebih lentur. Bab tidak lagi mengekang, tetapi justru membantu mengatur napas buku. Pembaca pun merasa alurnya mengalir alami.
Contoh Kasus Ilustrasi
Seorang penulis bernama Dina ingin menulis buku tentang pengalaman bekerja di dunia kreatif. Awalnya, ia pusing memikirkan struktur karena merasa pengalamannya terlalu beragam. Dina kemudian mulai menulis cerita-cerita pendek tentang kejadian yang paling berkesan. Setelah terkumpul banyak tulisan, ia membaca ulang dan mengelompokkan cerita berdasarkan tema emosi, seperti kebingungan, kegagalan, dan pembelajaran. Dari situ, struktur buku terbentuk dengan sendirinya. Bab-babnya tidak kaku, tetapi terasa mengalir. Dina menyadari bahwa struktur bukan sesuatu yang harus dicari di awal, melainkan ditemukan di tengah proses.
Menyederhanakan dengan Pertanyaan Kunci
Cara lain agar tidak pusing struktur adalah menggunakan pertanyaan kunci. Pertanyaan seperti “apa yang ingin saya sampaikan terlebih dahulu” atau “apa yang perlu diketahui pembaca sebelum lanjut” membantu menentukan urutan. Setiap bab menjawab satu pertanyaan utama. Dengan pendekatan ini, struktur terbentuk sebagai rangkaian jawaban, bukan daftar isi rumit. Penulis cukup memastikan setiap pertanyaan dijawab dengan tuntas sebelum beralih ke pertanyaan berikutnya. Cara ini terasa lebih natural dan mudah dipahami.
Menyelaraskan Awal, Tengah, dan Akhir
Meski tidak ingin pusing struktur, buku tetap perlu memiliki awal, tengah, dan akhir yang jelas. Awal berfungsi mengajak dan memberi konteks, tengah memperdalam dan mengeksplorasi, akhir merangkum dan memberi makna. Penulis tidak perlu memikirkan pembagian bab secara detail, cukup memastikan tiga bagian besar ini ada. Dari sini, bab-bab bisa diatur secara fleksibel. Struktur besar ini menjadi pegangan sederhana yang mencegah buku terasa berantakan.
Menyunting Struktur di Tahap Akhir
Struktur terbaik sering lahir saat penyuntingan, bukan saat penulisan awal. Setelah draf selesai, penulis bisa melihat buku secara utuh. Di tahap ini, barulah struktur diperhalus. Bab yang terlalu panjang bisa dipecah, bab yang terlalu pendek bisa digabung. Dengan menunda penyempurnaan struktur hingga akhir, penulis terbebas dari tekanan di awal. Proses menulis menjadi lebih fokus pada isi dan pesan.
Kesimpulan
Menyusun buku tanpa pusing struktur bukan berarti mengabaikan struktur sama sekali. Justru, struktur diperlakukan dengan cara yang lebih ramah dan manusiawi. Struktur dipahami sebagai alur, tumbuh dari isi, dan selalu bisa berubah. Dengan memulai dari tulisan, memegang tema besar, mengelompokkan secara alami, dan fokus pada pengalaman pembaca, penulis dapat menyusun buku dengan lebih tenang. Struktur tidak lagi menjadi momok yang menghalangi, tetapi menjadi teman yang membantu buku menemukan bentuk terbaiknya. Dengan pendekatan ini, menulis buku terasa lebih mungkin untuk diselesaikan dan dinikmati.




