Salah Kaprah Soal Gaya Bahasa Penulis

Salah Kaprah yang Sering Terjadi

Gaya bahasa sering dipandang sebagai sesuatu yang misterius: bak bakat yang turun dari langit atau sekadar hiasan indah yang membuat tulisan terlihat “sastra”. Banyak penulis, terutama yang baru mulai, terjebak pada anggapan-anggapan keliru tentang apa itu gaya bahasa dan bagaimana cara menentukannya. Ada yang khawatir gaya mereka terlalu sederhana sehingga tidak dianggap berkualitas, atau malah berpikir gaya yang penuh ornamen selalu lebih berkelas. Kesalahpahaman seperti ini membuat proses menulis jadi lebih berat dan tidak jarang menghalangi penulis untuk menyelesaikan naskahnya. Artikel ini mengurai mitos-mitos, kebingungan, dan kesalahan umum seputar gaya bahasa penulis, dengan bahasa sederhana dan naratif deskriptif, agar pembaca — baik penulis pemula maupun yang sudah berpengalaman — dapat melihat gaya sebagai alat yang bisa dikuasai, bukan aturan yang mengekang.

Gaya Bahasa Bukan Sekadar Hiasan

Seringkali orang menganggap gaya bahasa adalah lapisan dekoratif di atas isi. Padahal, gaya adalah cara tulisan menyampaikan pesan: ritme kalimat, pilihan kata, struktur paragraf, serta bagaimana penulis “berbicara” kepada pembaca. Ketika gaya hanya dipandang sebagai hiasan, penulis mungkin menambah metafora demi metafora atau kalimat panjang demi kelihatan puitis, tanpa mempertimbangkan apakah itu membantu pembaca memahami ide. Gaya yang baik justru melayani isi — memudahkan, mempertegas, atau memberi warna yang sesuai. Kalau hiasan malah menutupi pesan, fungsi gaya telah salah arah.

Gaya Tidak Sama dengan Keangkuhan Linguistik

Ada pula yang percaya semakin rumit bahasanya, semakin “berkualitas” tulisannya. Pemakaian istilah asing, kalimat berbelit-belit, atau penggalan bahasa yang jarang dipakai dianggap tanda kecerdasan. Namun kenyataannya, kebanyakan pembaca menghargai kejelasan. Tulisan yang memaksakan keangkuhan linguistik sering kali membuat pembaca merasa dijauhkan, bukan diajak berdialog. Kecanggihan bahasa memiliki tempatnya, tetapi jika tujuannya hanya untuk menunjukkan “kepintaran” penulis, ia kehilangan fungsi komunikatifnya.

Suara Penulis Bukanlah Gaya yang Dipaksakan

Penulis baru sering meniru gaya penulis yang dikagumi. Mereka berharap menempelkan ciri khas idola akan membuat tulisan mereka juga “keren”. Imitasi memang cara belajar, tetapi masalah muncul bila penulis berhenti pada tiruan. Suara yang dipaksakan cenderung dangkal dan cepat lelah untuk dipertahankan. Suara autentik lahir dari kombinasi kebiasaan bahasa, pengalaman hidup, dan cara memandang dunia. Menemukan suara sendiri butuh waktu, dan proses meniru harus dipakai sebagai latihan, bukan sebagai identitas permanen.

Gaya Bervariasi Antara Genre dan Tujuan

Salah satu kebingungan yang jarang disadari: gaya yang berhasil di satu genre belum tentu cocok di genre lain. Gaya rimbun yang pas untuk puisi bisa mengaburkan pesan pada buku pengembangan diri. Sebaliknya, gaya sangat lugas yang efektif untuk esai populer mungkin terasa hambar di novel sastra. Tujuan menulis menentukan gaya: untuk menginformasikan, mendesak, memikat, atau menghibur. Penulis perlu peka memilih gaya yang melayani tujuan tersebut, bukan menampilkan gaya sebagai akhir.

Clarity Lebih Penting dari Ornamen Berlebih

Banyak penulis takut menyederhanakan, karena mereka khawatir gaya sederhana berarti “biasa”. Padahal, kejelasan (clarity) adalah modal utama komunikasi. Ketika pembaca paham, ia bisa merasakan nuansa, humor, atau kedalaman yang penulis tawarkan. Ornamen yang berlebihan tanpa fungsi hanya menghasilkan teks padat yang sulit dinikmati. Gaya efektif seringkali sederhana — namun penuh pilihan kata yang tepat dan struktur yang mempertimbangkan napas pembaca.

Showing Versus Telling Sering Disalahartikan

Kalimat “show, don’t tell” menjadi mantra populer dalam dunia tulisan fiksi. Namun penyalahaplikasiannya membuat penulis menghindari keterangan penting hanya karena ingin “menunjukkan”. Showing berarti memberi pengalaman sensorik dan konteks sehingga pembaca dapat menyimpulkan sendiri, sementara telling memberi keterangan secara langsung. Keduanya punya tempat. Kesalahan umum adalah menganggap showing selalu superior sehingga penulis menulis adegan panjang tanpa menjelaskan inti perasaan atau motif karakter, membuat pembaca bingung. Gaya baik menyeimbangkan kedua pendekatan sesuai kebutuhan narasi.

Panjang Kalimat Bukan Ukuran Gaya yang Kuat

Terdapat kesalahpahaman bahwa kalimat panjang otomatis terasa puitis atau intelektual. Kalimat panjang bisa indah jika memiliki ritme, sekaligus memungkinkan pengulangan fragment dan perubahan fokus. Namun kalimat panjang juga berisiko kehilangan pembaca jika tidak dirancang dengan cermat. Gaya yang kuat sering kali merupakan permainan panjang-pendek kalimat: paragraf yang bernapas, variasi ritme, dan pergantian tempo yang memberi ruang refleksi. Memaksakan panjang kalimat tanpa fungsi retoris akan membuat teks melelahkan.

Pilihan Kata Tak Kalah Penting dari Struktur Besar

Bukan hanya struktur besar yang membentuk gaya; pilihan kata sehari-hari juga menentukan suara penulis. Kata-kata sederhana bisa menimbulkan kedalaman jika ditempatkan dengan tepat. Sebaliknya, kata-kata “berat” yang disisipkan tanpa urgensi bisa terdengar artifisial. Banyak penulis lupa memikirkan denotasi dan konotasi kata — apa maknanya di kepala pembaca, dan emosi apa yang dibawa. Gaya yang konsisten mempertimbangkan hal ini secara teliti.

Konsistensi Gaya Membantu Pembaca Mengikuti

Konsistensi bukan berarti kaku. Maksudnya, penulis perlu menjaga koherensi pilihan bahasa, register, dan sudut pandang sepanjang karya. Perubahan gaya mendadak tanpa alasan narrative atau strategis bisa membingungkan pembaca. Ketika narasi berubah dari formal ke sangat santai tanpa tanda, pembaca mungkin kehilangan kepercayaan. Namun konsistensi juga bisa flex: penulis berhak bereksperimen, asalkan perubahan itu sadar dan berfungsi bagi pembaca.

Gaya Juga Tentang Tempo dan Ruang

Gaya bahasa menyangkut bagaimana penulis memberikan ruang kepada pembaca. Paragraf pendek memberi napas cepat dan sensasi urgensi; paragraf panjang memberi ruang untuk refleksi. Gaya yang baik mengelola tempo: kapan mempercepat, kapan melambatkan. Kesalahan umum adalah memaksa tempo sama di seluruh naskah. Pembaca yang diajak bernapas bersama tulisan akan lebih terlibat.

Gaya Tidak Menurut Semua Orang

Sering terjadi penulis khawatir: “Gaya saya terlalu unik, apakah pembaca akan mengerti?” Realitasnya, tidak mungkin menyenangkan semua pembaca. Gaya yang spesifik dan berani sering memecah pendapat: sebagian pembaca terpikat, sebagian lagi merasa asing. Kriteria kesuksesan bukanlah menjadi disukai semua orang, melainkan menciptakan keterhubungan yang kuat dengan pembaca yang tepat. Kesalahan adalah mencoba membuat gaya yang “aman” untuk semua audiens dan berakhir kehilangan ciri.

Mengabaikan Pembaca Adalah Kesalahan Gaya Utama

Gaya yang indah pada perasaan penulis tapi mengabaikan pembaca akan sia-sia. Menulis adalah tindakan komunikasi. Ketika penulis lupa siapa pembacanya, gaya bisa mengembang menjadi satu monolog yang tidak merespons. Memperjelas siapa pembaca ideal — usia, latar, tujuan membaca — membantu memilih register, detail, dan contoh yang relevan. Gaya yang empatik membaca audiensnya adalah gaya yang efektif.

Teknik Retoris Bukan Lagi Tabu

Ada kesan bahwa penggunaan teknik retoris seperti anafora, antitesis, repetisi dianggap “klasik” dan ketinggalan zaman. Padahal teknik tersebut kuat jika dipakai dengan tepat. Masalah muncul ketika teknik ditempelkan tanpa pertimbangan fungsi. Gaya modern boleh menggunakan teknik klasik, selama bertujuan menguatkan argumen atau menambah ritme, bukan sekadar meniru.

Gaya Harus Dipertahankan Lewat Revisi

Banyak penulis menunggu “gaya datang” di draf pertama. Faktanya, gaya sering dibentuk dalam proses revisi. Draf awal adalah eksplorasi; draf berikutnya menyaring suara, membuang kata tak perlu, dan menajamkan ritme. Kesalahan umum adalah berhenti di tahap menulis dan enggan melakukan revisi mendalam yang mengasah gaya. Revisi adalah ruang di mana pilihan gaya menjadi sadar dan konsisten.

Gaya Bahasa dan Keterbacaan

Keterbacaan (readability) berkaitan erat dengan gaya. Teks yang indah tapi tidak bisa dibaca bukanlah kemenangan. Ada alat dan ukuran keterbacaan, namun lebih penting lagi adalah praktik: baca nyaring untuk merasakan ritme, berlatih menyunting kalimat yang berbelit, dan minta umpan balik pembaca beta. Gaya yang berorientasi pada keterbacaan tetap bisa kaya secara estetika.

Bahasa Baku vs Bahasa Lisan

Banyak penulis bingung apakah harus memakai bahasa baku penuh atau menyertakan ragam lisan. Jawabannya tergantung pada konteks dan tujuan. Bahasa lisan memberi kedekatan dan karakter, sementara bahasa baku memberi jarak formal. Dalam fiksi, dialog alami terasa lebih hidup jika mengandung ragam lisan; dalam esai akademis, baku lebih tepat. Kesalahan adalah mengadopsi ragam tanpa alasan, sehingga terkesan tidak otentik.

Terjemahan Gaya Bukan Sekadar Mengalihbahasakan Kata

Bagi penulis yang menerjemahkan atau menulis dalam bahasa kedua, seringkali gaya tersesat. Terjemahan literal mengabaikan ritme dan konotasi yang berbeda antarbahasa. Gaya yang berhasil diterjemahkan memerlukan adaptasi: mempertimbangkan idiom, struktur kalimat, dan kebiasaan baca target bahasa. Kesalahan umum adalah mengandalkan kosakata kamus tanpa mempertimbangkan suara asli teks.

Gaya Sebagai Alat Etis

Gaya juga punya dimensi etis: bagaimana penulis mewakili kelompok, bagaimana ia menggunakan humor, atau bagaimana ia mengangkat isu sensitif. Gaya yang sembrono dapat memperkuat stereotip atau meremehkan pengalaman orang lain. Kesalahan yang jarang disadari adalah tidak mempertimbangkan dampak kata-kata terhadap pembaca yang berbeda latar. Gaya yang bertanggung jawab mempertimbangkan implikasi tersebut.

Eksperimen Gaya Perlu Batas

Banyak penulis eksperimen untuk menemukan suara uniknya. Eksperimen itu penting, tetapi tanpa batas, eksperimen dapat membuat cerita atau argumen kehilangan fokus. Gaya eksperimental yang baik memiliki aturan internal: ia mengganggu pembaca bukan asal-asalan, tetapi untuk menegaskan tema atau pengalaman tertentu. Kesalahan adalah bereksperimen tanpa alasan naratif.

Contoh Kasus Ilustrasi

Seorang penulis bernama Rina menulis novel berlatar kota kecil. Di awal menulis, Rina terobsesi menulis kalimat-kalimat puitis panjang yang mirip penulis favoritnya. Setelah membaca ulang, banyak pembaca beta mengeluh cerita terasa “indah tapi jauh”. Dialog terasa tidak alami, adegan sehari-hari dipenuhi metafora yang menutupi perasaan tokoh. Rina kemudian memutuskan menyederhanakan di banyak bagian: menghapus metafora yang tak perlu, memperpendek kalimat, dan menguatkan dialog dengan ritme natural. Hasilnya, cerita menjadi lebih dekat; pembaca merasakan tokoh-tokohnya. Rina menyadari gaya awalnya lebih cocok untuk puisi, bukan narasi yang membutuhkan keterhubungan emosional langsung.

Menjaga Kehidupan Gaya Lewat Konsistensi Latihan

Gaya bukan hadiah yang diterima sekali lalu dipamerkan. Ia terlatih lewat membaca luas, menulis rutin, dan berani menyunting. Praktik menulis beragam genre membantu memahami bagaimana gaya bekerja dalam konteks berbeda. Latihan terencana — seperti menulis ulang satu adegan dalam beberapa gaya — melatih fleksibilitas. Kesalahan adalah berharap gaya “terbentuk” tanpa kerja terus-menerus.

Gaya Sebagai Pilihan yang Disengaja

Salah kaprah soal gaya bahasa bermula dari pandangan yang menganggap gaya sebagai penampilan atau takdir. Padahal gaya adalah pilihan yang dapat dipelajari, diuji, dan disesuaikan. Gaya terbaik adalah gaya yang sadar: melayani tujuan teks, menghormati pembaca, serta konsisten dan fleksibel. Penulis yang bijak memandang gaya bukan sebagai beban untuk dipertahankan demi gengsi, tetapi sebagai alat untuk membangun hubungan dengan pembaca. Dengan latihan, revisi, dan empati terhadap pembaca, gaya akan menjadi sahabat setia yang membuat tulisan tidak hanya terlihat indah, tetapi juga hidup dan bermakna.