Ketika Menulis Buku Tapi Merasa Tidak Pantas

Rasa Ragu yang Diam-Diam Menghantui

Banyak orang memulai proses menulis buku dengan semangat dan harapan. Ide sudah ada, garis besar sudah disusun, bahkan beberapa bab mungkin sudah ditulis. Namun di tengah perjalanan, muncul perasaan yang sulit dijelaskan: merasa tidak pantas menulis buku ini. Perasaan ini tidak selalu muncul sebagai ketakutan besar, melainkan sebagai bisikan halus yang terus berulang. Siapa saya sampai berani menulis buku? Apakah pengalaman saya cukup? Apakah pengetahuan saya layak dibagikan? Keraguan semacam ini sangat umum, tetapi sering tidak dibicarakan. Artikel ini membahas secara naratif mengapa perasaan tidak pantas muncul saat menulis buku, bagaimana ia bekerja secara diam-diam, dan mengapa perasaan tersebut justru sering dialami oleh orang-orang yang sebenarnya layak menulis.

Perasaan Tidak Pantas yang Sulit Diakui

Merasa tidak pantas sering dianggap sebagai tanda kurang percaya diri. Akibatnya, banyak penulis memilih menyembunyikan perasaan ini. Mereka tetap menulis, tetapi dengan beban batin yang berat. Ada rasa malu untuk mengakui bahwa di balik tulisan yang rapi, terdapat keraguan mendalam tentang diri sendiri. Padahal, perasaan tidak pantas bukan semata soal percaya diri, melainkan tentang cara seseorang memandang posisi dirinya di hadapan pembaca.

Membandingkan Diri dengan Penulis Lain

Salah satu sumber utama perasaan tidak pantas adalah kebiasaan membandingkan diri dengan penulis lain. Ketika membaca buku-buku yang dianggap hebat, penulis mulai meragukan karyanya sendiri. Pengalaman pribadi terasa kecil, sudut pandang terasa dangkal, dan bahasa terasa biasa. Perbandingan ini sering tidak adil, karena penulis membandingkan proses mentahnya dengan karya orang lain yang sudah melalui banyak revisi.

Merasa Bukan Siapa-Siapa

Banyak penulis berpikir bahwa hanya orang dengan gelar, reputasi, atau pencapaian besar yang pantas menulis buku. Ketika melihat dirinya sebagai orang biasa, perasaan tidak pantas pun muncul. Ada anggapan bahwa buku harus ditulis oleh mereka yang sudah “berhasil”, padahal kenyataannya banyak buku berharga justru lahir dari pengalaman orang-orang biasa yang jujur.

Takut Dinilai Sok Tahu

Ketika menulis nonfiksi, perasaan tidak pantas sering muncul dalam bentuk takut dianggap sok tahu. Penulis khawatir pembaca akan mempertanyakan kapasitasnya. Padahal, menulis buku bukan berarti mengklaim tahu segalanya. Menulis sering kali adalah proses berbagi pengalaman dan pemikiran, bukan menggurui.

Meremehkan Pengalaman Sendiri

Banyak orang terbiasa meremehkan pengalaman hidupnya sendiri. Hal-hal yang dialami sehari-hari dianggap terlalu biasa untuk dibukukan. Padahal, apa yang terasa biasa bagi penulis bisa menjadi sangat berarti bagi pembaca lain. Perasaan tidak pantas muncul karena penulis menilai pengalamannya dari sudut pandang dirinya sendiri, bukan dari kemungkinan manfaatnya bagi orang lain.

Takut Salah dan Dikritik

Menulis buku berarti membuka diri terhadap penilaian. Perasaan tidak pantas sering berkaitan dengan ketakutan akan kritik. Penulis khawatir tulisannya salah, tidak lengkap, atau disalahpahami. Ketakutan ini membuat proses menulis terasa berat, karena setiap kalimat ditulis dengan rasa waswas.

Standar yang Terlalu Tinggi

Sebagian penulis menetapkan standar yang sangat tinggi untuk dirinya sendiri. Mereka merasa harus menulis buku yang luar biasa atau tidak menulis sama sekali. Standar ini membuat mereka merasa tidak pantas sejak awal, karena merasa belum mencapai tingkat tertentu. Akibatnya, proses menulis dipenuhi rasa bersalah dan tekanan.

Merasa Datang Terlalu Dini

Ada penulis yang merasa dirinya terlalu muda, terlalu baru, atau belum cukup lama bergelut di bidang tertentu. Mereka berpikir bahwa buku seharusnya ditulis nanti, setelah pengalaman lebih banyak. Perasaan ini membuat buku terus tertunda, karena selalu merasa belum waktunya.

Merasa Datang Terlalu Lambat

Sebaliknya, ada juga yang merasa terlambat. Mereka melihat banyak buku sudah terbit dengan topik serupa dan merasa tidak pantas menambah satu lagi. Mereka khawatir dianggap ketinggalan atau tidak relevan. Padahal, sudut pandang pribadi tidak pernah benar-benar terlambat.

Bayangan Pembaca Ideal

Perasaan tidak pantas sering diperkuat oleh bayangan pembaca ideal yang terlalu sempurna. Penulis membayangkan pembaca yang sangat kritis, pintar, dan sulit puas. Bayangan ini membuat penulis merasa kecil dan tidak layak berbicara. Padahal, pembaca nyata sangat beragam dan sering mencari kedekatan, bukan kesempurnaan.

Impostor Syndrome dalam Menulis

Fenomena merasa tidak pantas sangat dekat dengan apa yang sering disebut sebagai impostor syndrome. Penulis merasa seperti penipu yang sewaktu-waktu akan ketahuan tidak sepintar atau seberpengalaman yang terlihat dari tulisannya. Perasaan ini bisa muncul bahkan pada penulis yang sudah berpengalaman.

Menganggap Bagungkan Buku

Buku sering ditempatkan pada posisi yang terlalu tinggi. Ia dianggap sebagai karya besar yang hanya boleh lahir dari orang-orang tertentu. Pandangan ini membuat banyak penulis merasa tidak pantas. Ketika buku dipandang sebagai proses berbagi, bukan monumen, perasaan ini bisa berkurang.

Tekanan dari Lingkungan

Lingkungan sekitar juga bisa memicu perasaan tidak pantas. Komentar seperti “kamu memang sudah ahli?” atau “siapa yang mau baca?” meski diucapkan bercanda, bisa menancap kuat di pikiran. Penulis mulai meragukan niat dan kemampuannya sendiri.

Menulis tentang Diri Sendiri

Menulis buku yang bersumber dari pengalaman pribadi sering memicu rasa tidak pantas. Ada rasa sungkan untuk menjadikan diri sendiri sebagai bahan tulisan. Penulis takut dianggap narsis atau berlebihan. Akibatnya, banyak kisah berharga tidak pernah dituliskan.

Takut Membuka Diri

Menulis buku sering berarti membuka bagian diri yang selama ini disimpan rapat. Perasaan tidak pantas muncul sebagai mekanisme perlindungan. Dengan merasa tidak layak, penulis bisa menunda atau menghentikan proses menulis tanpa harus menghadapi kerentanan.

Contoh Kasus Ilustrasi

Seorang penulis bernama Maya ingin menulis buku tentang pengalamannya merawat orang tua yang sakit. Ia merasa pengalamannya tidak istimewa karena banyak orang mengalami hal serupa. Setiap kali mulai menulis, muncul perasaan bahwa ia tidak pantas menjadikan kisah keluarganya sebagai buku. Setelah berbincang dengan teman-temannya, Maya baru menyadari bahwa banyak orang justru membutuhkan kisah yang jujur dan manusiawi seperti pengalamannya. Perasaan tidak pantas itu bukan tanda ketidaklayakan, melainkan tanda bahwa ia menulis dari tempat yang sangat personal.

Ketidakseimbangan antara Mengetahui dan Mengalami

Banyak penulis merasa tidak pantas karena merasa belum cukup tahu, padahal mereka sudah cukup mengalami. Mereka lupa bahwa pengalaman juga merupakan sumber pengetahuan yang sah. Buku tidak selalu lahir dari teori, tetapi dari proses hidup yang dijalani.

Takut Mengambil Ruang

Perasaan tidak pantas sering berkaitan dengan rasa sungkan mengambil ruang. Menulis buku berarti mengambil ruang di rak buku, di pikiran pembaca, dan di percakapan publik. Bagi sebagian orang, mengambil ruang ini terasa egois atau berlebihan.

Menganggap Orang Lain Lebih Layak

Ada kecenderungan melihat orang lain selalu lebih layak. Penulis merasa bahwa topik yang sama akan lebih baik jika ditulis oleh orang lain. Pikiran ini membuat penulis menyingkir sebelum benar-benar mencoba.

Tidak Terbiasa Menghargai Diri

Sebagian orang tumbuh dalam lingkungan yang jarang memberi pengakuan. Mereka terbiasa bekerja tanpa merasa layak dipuji. Ketika harus menulis buku, perasaan tidak pantas muncul karena menulis buku dianggap sebagai bentuk pengakuan terhadap diri sendiri.

Menyamakan Nilai Diri dengan Kualitas Buku

Ketika penulis menyamakan nilai dirinya dengan kualitas bukunya, rasa tidak pantas menjadi sangat kuat. Buku yang belum sempurna terasa seperti cerminan diri yang belum layak. Padahal, buku adalah karya, bukan identitas.

Proses Menulis yang Sunyi

Menulis buku sering dilakukan dalam kesunyian. Tanpa umpan balik langsung, pikiran negatif mudah berkembang. Perasaan tidak pantas tumbuh subur di ruang sunyi ini jika tidak disadari dan dihadapi.

Merasa Harus Menjadi Panutan

Sebagian penulis merasa bahwa menulis buku berarti menjadi panutan. Mereka khawatir belum cukup baik untuk dijadikan contoh. Padahal, banyak buku justru kuat karena penulisnya menunjukkan ketidaksempurnaan.

Ketakutan Akan Konsistensi

Menulis buku berarti meninggalkan jejak. Penulis khawatir tidak bisa konsisten dengan apa yang ditulisnya di masa depan. Ketakutan ini memunculkan perasaan tidak pantas, seolah hanya orang yang sempurna yang boleh menulis.

Menganggap Menulis Buku Sebagai Hak Istimewa

Ada anggapan bahwa menulis buku adalah hak istimewa segelintir orang. Anggapan ini membuat banyak penulis merasa berada di luar lingkaran tersebut. Padahal, menulis adalah hak siapa pun yang ingin berbagi.

Merasa Tidak Pantas sebagai Bagian Proses

Perasaan tidak pantas sering kali muncul justru karena penulis sedang berada di titik penting. Ia mulai menyadari bobot dari apa yang ditulisnya. Rasa ragu ini bisa menjadi tanda bahwa tulisan tersebut bermakna.

Menghadapi Perasaan Itu dengan Kesadaran

Mengatasi perasaan tidak pantas bukan dengan mengusirnya, melainkan dengan mengenalinya. Ketika penulis menyadari bahwa perasaan ini umum dan manusiawi, bebannya berkurang. Menulis bisa dilanjutkan tanpa harus menunggu perasaan pantas itu hilang sepenuhnya.

Menulis sebagai Percakapan, Bukan Penghakiman

Melihat buku sebagai percakapan membantu meredakan perasaan tidak pantas. Penulis tidak perlu berada di atas pembaca, cukup berjalan bersama. Buku menjadi ruang berbagi, bukan panggung pembuktian.

Memberi Izin pada Diri Sendiri

Sering kali yang dibutuhkan hanyalah izin dari diri sendiri. Izin untuk menulis meski merasa belum layak. Izin untuk belajar sambil berjalan. Tanpa izin ini, proses menulis akan terus tertahan.

Tidak Pantas Bukan Berarti Tidak Layak

Merasa tidak pantas saat menulis buku adalah pengalaman yang sangat manusiawi. Perasaan ini tidak selalu berarti penulis benar-benar tidak layak, melainkan sering menunjukkan kepekaan dan kesadaran diri. Buku tidak harus ditulis oleh orang yang merasa paling pantas, tetapi oleh mereka yang bersedia jujur dan bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya. Dengan memahami bahwa rasa tidak pantas adalah bagian dari proses, penulis dapat melangkah maju tanpa menunggu keyakinan sempurna. Pada akhirnya, buku yang ditulis dengan keraguan dan kejujuran sering kali justru menjadi buku yang paling menyentuh pembaca.